Ketika

Biar aku redupkan lampu kamarmu
Ada yang ingin aku sampaikan lewat kegelapan
Kau tak perlu banyak berpikir, tentang apa?
Pejamkanlah matamu, sebentar saja

Kau, aku, tahu cinta itu sederhana, bukan?
Ya, seperti bisikkan-bisikkanku kali ini
Tapi aku memaknai luar biasa di setiap jatuhnya
Ya, ketika aku jatuh cinta, padamu. ~

Simbiosis Sunyi

Selembar daun tak bisa merayakan sepi tanpa dijatuhkan ranting
Sebutir pasir tak mampu mengkhidmati sunyi tanpa didesirkan oleh angin
Serimtik gerimis tak akan berani menabrakkan diri pada keras aspal bila tak ditemani rintik lainnya
Namun setetes air mata, kita tak pernah mengira bahwa ia begitu berani menjatuhkan diri, sekalipun sendiri, karna sunyi telah begitu hebat merajai setiap tetesannya, barangkali. ~

Meluruh

Pada jingga senja yang perlahan tenggelam
Senyumanmu, ialah hal yang masih aku pikirkan
Sebagai getaran yang entah namun meluruh di selungkup jiwa
Tatkala malam bersiap menelanjangi segala aksara kerinduan
Pahamilah, aku serupa jemari yang mendoakanmu dengan tabah
Bibir yang tak kenal lelah, untuk menguxap namamu, di dalam sela doa
Kekasih, jika malam ini aku terjaga dan tak terbangun esok pagi
Aku ingin kau mengenangku, sesering kau bisa: sebagai orang yang pernah kau miliki, dan begitu kau sayangi. ~

Hujan

Di depan pintu rumah
Hujan menghempas, ke sana, ke mari
Aku menatapnya dengan mata yang megah
Barangkali ada tetes yang mewakilkan suasana isi hati ini

Rerintik menemaniku belajar
Untuk kesekian kali, belajar mengeja namamu
Dengan penuh sabar
Tanpa ada asa untuk menyerah mengagumimu

Kasih, jika hari tak lagi fajar
Biarkanlah segal berganti gelap
Akan aku temani cahayamu yang rumpang di sudut kamar
Dan biarkan aku berbagi cerita, tentang hati yang kini hinggap, di pikiranku. ~

Gigil Jemari

Mata yang serupa cahaya
Telah jelma bersama dusta
Yang semula memerah diufuk senja
Kini hanyalah sampah dari tiap prasangka

Bujur htimu yak lagi aku
Tapi kau tahu, aku menunggu
Benakmupun tak lagi aku
tapi dzikirku menyayat perlahan namamu

Wahai jiwa yang bersumpah atas nama senja
Bantu aku hela nafas di atas prahara
Dari butir-butir cerita
Dari apa yang membuat air mata

Agar tak ada lagi jemari yang gigil
Agar tiada mata yang menatap hampa
Namun hatiku hanyalah kerikil
Keras, dengan cerita di setiap sudutnya, luka. ~

Melamunkan Senja

: Dari Rafael Yanuar ( @opiloph )
: Kepada Amresza di Jakarta

Aku selalu mengenal senja di kotamu meski musim sedang hujan, seperti pula kenangan di hati kita

Aku senang menengadah , menangkap cahayanya di mana rindu biasa berguguran lalu hinggap di telapak tangan kita

Aku bahagia bilamana engkau menjadi kenangan kecil seperti juga hal-hal lainnya dan kita, mengabadi dalam rindu sederhana

Namun, Tuhan bagaimana aku bisa mencari segala yang kini disembunyikan waktu?

Malam Ini Entah Kenapa Aku Begitu Ingin Menjadi Kamu

Malam ini entah kenapa aku begitu ingin menjadi kamu; 
Aku ingin menjadi matamu, mencari tahu bagaimana caramu menatap dan memperhatikanku 
Aku ingin menjadi pikiranmu, merasakan bagaimana ketika engkau memikirkanku dengan segala ketidaktahuanku 
Aku ingin menjadi detak jantungmu, mengkhidmati segala debarnya saat berpapasan denganku, dengan atau tanpa keinginanmu 
Kemudian aku ingin menjadi sesuatu yang tak mampu dipahami oleh dirimu sendiri; hatimu — yang bahkan tak pernah bisa juga aku terjemahkan, ketika aku begitu ingin menjadi kamu. ~

Hujan Awal Februari

Tiba-tiba saja hujan itu turun
Seketika membasahi terotoar-terotoar di tepi jalan
Lalu menjadi lamunan para peneduh pada halte yang penuh coretan
Serupa kenangan yang memaksa menepi untuk sekadar diingat

Seorang dari peneduh itu, aku
Adalah orang yang memandang jauh ke seberang jalan
Ku lihat hujan begitu deras menabrakkan dirinya pada aspal jalanan ibu kota
Menampar pasir dan debu hitam yang dikeluarkan knalpot bus-bus tua

Tuhan, ini kah hujan?
Akan tetap sama sekalipun turun pada hari ulang tahun
Membuat debar jantung ini tak lebih dari sebuah kekhawatiran
Akan kebahagiaan atau kedingininan yang Engkau hunjamkan. ~

Satu Demi Satu Mengingatmu

1 detik ketika aku mengingatmu; tak ada yang berbeda, segalanya masih sama, seperti detik-detik sebelumnya
1 menit ketika aku mengingatmu; kau sepintas kilat, begitu saja, cahaya yang melaju cepat pada bait pikiranku
1 jam ketika aku mengingatmu; kau mulai hadir kembali dan duduk manis di antara hati dan pikiranku, hanya diam dan tersenyum
1 hari ketika aku mengingatmu; kau mulai menggerakkan bibirmu, berbincang pada rindu yang lama tak kau sentuh
1 minggu ketika aku mengingatmu; kau mengusap perlahan segala kesedihanku tentang dunia yang begitu fana
1 bulan ketika aku mengingatmu; kau mengajariku mengusap air mata, seperti apapun deras alirannya
1 tahun ketika aku mengingatmu; aku sadari, aku sesuatu yang tak ingin melupakanmu barang 1 detik pun, tak akan mau.~

Memikirkanmu, Setiap Waktu

Mungkin aku tak akan merasa sepi tanpamu; seperti malam, tak pernah merintih sekalipun sunyi enggan pergi
Mungkin aku bisa tak memikirkanmu; seperti malam ini, aku tak ingat bagaimana cara mengingatmu
Atau mungkin aku bisa tak menangisimu; seperti malam ini, aku telah lupa bagaimana caranya menitihkan air mata

Tapi tak akan mungkin
Kau bilang; jadilah diri sendiri, tanpa segala kebohongan
Ya, aku akan tetap menjadi diriku sendiri, seperti katamu
Akan tetap memikirkanmu, setiap waktu.~