Aku, pelataran hati yang tak terjamak
Setiap langkahnya penuh dengan pasak
Dari kutub-kutub yang tak pernah bersentuhan
Itulah julang setiap gerik dan hembusan
Sunyi, tak pernah pergi dari singgahnya
Menjadi teman antara malam dan pagi
Bersama kuntum rerontok layu
Bersama nafas yang melabu
Nampak cahaya senja memerah
Menutup ruang untuk mencuri rasa
Wajahmu, ialah pelangi yang meredam
Begitu pula cinta yang tak kunjung padam
Kias mawar merekah berharuman
Menitih cerita tentang hidup dan mati
Sekejap mata tak terpungkiri
Menahan rindu mengeluh kehausan
Wajahnya berselimut kabut
Kabut cinta namun semeraut
Tak ada lagi sedikit tumpu
Penyanggah hati yang begitu bisu
Perangai semesta tampak dalam kemaslahatan
Cahayanya berkedap-kedip bak kunang ditelan subuh
Pun akhirnya redup, akan ada cerita yang berantakan
Kepingnya tak lengkap, terbawa gemuruh berdesah keluh
Kecipluk damai makin sendu tak terhela
Rona pun menitir dari lubang kesepian
Ah, semua berubah tat kala dusta
Mengecap segala, menggema ketakutan
Meleburlah jiwa-jiwa yang ranum
Ragamu tak lagi guna
Hanya jadi hati yang maksum
Merambah tiada gelora
Tulang-belulangnya teronggok peluk bumi
Mendekam hangat gebyar sunyi
Terbaring, tanpa jati diri
Semakin semu, semakin mati~